Detail Lontar
Klasifikasi WedaAnustana Bwat Sora. Ib.2.298.
Terjemahan Bahasa Kawi Kalimat Awal
Nihan
kramaning Anustana Bwat Sora, silih alap lawan kirana, madiusa, marahupa,
madanta-soca, masalimputa, monggwan-unggwan, sopacara, prangmuka, udangmuka.
Kunang telas ta kara-sudi-krama, talabédana 3 petik 3 sahanaraca-mudra,
astra-mantra. Telas ta pranayama, panjingaken ikang bayunta maawana linang ning
irung kiwa aywa madres. Ya ta sakti dénta manjingaken ri sira.
Om
Um namah mantra. Sira Pura ngaranira. Pegeng aywa winéh mijila.
Om
Mam namah, mantra. Sira Kumbaka ngaranira.
Sma.,
mijilaken maawana liang ning irung tengen.
Om
Am namah, mantra. Sira Récaka ngaranira.
Telas
diayita kita, idep Sanghyang Atma minduhur anganting ruhur ning siwadwara,
rwawelas anggula dohnira sakéng siwadwara, pratista mudra sadananta.
Om
Am hredaya ya namah, mantra. Idep spatika rupanira.
Terjemahan Bahasa Indonesia
Inilah
tata cara pelaksanaan (ritual/yoga) bagi sang pemuja (Sora), saling
mengambil/menyelaraskan dengan sinar (matahari/bulan), membersihkan diri
(mandi), menghias diri/berwujud spiritual, membersihkan gigi/bersuci, memakai
selendang upacara, menempatkan diri pada posisi yang tepat, menggunakan
perlengkapan upacara, menghadap ke depan, dan menghadap ke atas.
Adapun
setelah selesai melakukan tata cara penyucian tangan (kara-suddhi-krama),
lakukan gerakan talabédana (membuka telapak tangan) sebanyak 3 kali,
petik jari 3 kali, lakukan gerakan sahanaraca-mudra, dan rapalkan astra-mantra
(mantra perlindungan/senjata).
Setelah
selesai, lakukan pengaturan napas (pranayama). Masukkan napasmu (udara)
melalui lubang hidung sebelah kiri, jangan tergesa-gesa (perlahan saja). Itulah
kekuatanmu dalam memasukkan napas ke dalam dirimu.
Om Um namah.
Ini mantranya. Dialah yang disebut Puraka (menarik napas). Tahanlah
napas itu, jangan biarkan keluar.
Om Mam namah.
Ini mantranya. Dialah yang disebut Kumbhaka (menahan napas).
Kemudian,
keluarkan napas melalui lubang hidung sebelah kanan.
Om Am namah.
Ini mantranya. Dialah yang disebut Recaka (mengembuskan napas).
Setelah
selesai berkonsentrasi (mediatisi), bayangkan sang jiwa (Sanghyang Atma)
bergerak naik dan melayang di atas ubun-ubun (siwadwara), jaraknya dua
belas jari dari ubun-ubun, dengan posisi tangan membentuk pratista-mudra
sebagai landasanmu.
Om Am hredaya ya namah. Ini mantranya. Bayangkanlah wujud-Nya yang bening
bercahaya seperti kristal (spatika).
English Translation
This
is the procedure for the worshipper's ritual practice (yoga). The practitioner
harmonizes with the radiance of the sun and moon, purifies oneself by bathing,
adorns oneself in a sacred or spiritual manner, cleanses the teeth and body,
wears a ceremonial sash, takes the proper position, uses the ritual implements,
faces forward, and directs awareness upward.
After
completing the procedure of hand purification (kara-suddhi-krama),
perform the talabhedana gesture (opening the palms) three times, snap
the fingers three times, perform the sahanaraca-mudra, and recite the astra-mantra
(the mantra of protection or the divine weapon).
Afterward,
practice breath regulation (pranayama). Draw your breath in through the
left nostril slowly and without haste. This is the power by which you bring the
breath into yourself.
This is the mantra. It is called Puraka (inhalation). Retain the breath
and do not let it escape.
Om
Mam Namah.
This is the mantra. It is called Kumbhaka (breath retention).
Then
exhale through the right nostril.
Om Am
Namah.
This is the mantra. It is called Recaka (exhalation).
After
completing concentration or meditation, visualize the soul (Sanghyang Atma)
rising upward and hovering above the crown aperture (Siwadwara), at a
distance of twelve finger-widths above the crown of the head. Place your hands
in the Pratista-mudra, which serves as your foundation.
Om
Am Hredaya Ya Namah.
This is the mantra. Visualize His form as pure and radiant, shining like
crystal (spatika).